Selasa, 23 Juli 2013

Askeb Nifas Dengan PEB

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lamanya masa nifas 6-8 minggu.
(Sinopsis Obstetric 1998, 115)
Dalam masa nifas terjadi perubahan-perubahan yang dialami ibu dan kita harus melakukan pemantauan yang tepat pada ibu dan bayi. Apakah perubahan-perubahan yang terjadi termasuk fisiologis atau partologis, sehingga dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dan sesuai untuk memberikan asuhan kebidanan.
Adapun yang harus diperiksa pada ibu nifas ialah: keadaan umum, keadaan payudara dan putingnya, dinding perut, keadaan perineum, kandung kencing, rektum, flour albus. Keadaan serviks, uterus dan adrexa. Adanya erosi, radang atau kelainan-kelainan. Pre-eklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan protein uria yang timbul karena kehamilan.Tidak jarang walaupun pada kehamilan normal bisa saja terkena pre-eklampsia.Pre-eklampsia bisa saja berlangsung pada saat persalinan.Untuk itu dalam penanganannya harus lebih hati-hati dan teliti.
       (Sarworo 2005, 244)

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada makalah ini meliputi:
1.      Bagaimana asuhan kebidanan ibu nifas pada ny q usia 38 th, P6 a0  1 hari postpartum spontan dengan peb di ruang bougenville 1?


C.       Tujuan Penulisan
a.    Untuk memenuhi tugas seminar Praktik Klinik Kebidanan II di RSUD Kudus
b.    Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian data tentang PEB
c.    Mahasiswa mampu melaksanakan interpretasi data dalam asuhan kebidanan terhadap PEB
d.   Mahasiswa mampu    merumuskan diagnosa, mengidentifikasi masalah dan menentukan prioritas masalah PEB
e.    Mahasiswa mampu  menentukan pelaksanaan tindakan segera yang dibutuhkan untuk penatalaksanaan PEB
f.     Mahasiswa mampu   menyusun rencana kebidanan terhadap PEB
g.    Mahasiswa mampu     melaksanakan tindakan kebidanan terhadap PEB
h.    Mahasiswa mampu melakukan evaluasi asuhan kebidanan terhadap PEB


BAB II
TINJAUAN TEORI

A.       Pengertian Nifas
Masa nifas (peurperium) adalah pulihnya kembali mulai dari partus atau persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lamanya 6 – 8 minggu.(Sinopsis Obstetri,1998:115)
B.  Periode Masa Nifas
1.          Puerperium dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan
2.          Puerperium intermedial
Yaitu Kepulihan menyeluruh alat–alat genetalia yang lamanya 6–8 minggu
3.         Remote Puerperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk putih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
(Sinopsis Obstetri,1998:115)
C.  Inovasi Alat-Alat Kandungan
1.      Uterus
Secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
TFU dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi
TFU
Berat uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2 jari bawah pusat
Pertengahan pusat symphisis
Tidak beruba diatas symphisis
Bertambah kecil
Sebesar normal
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram

2.      Bekas Implantasi Uri
Placenta bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kovum uteri dengan diameter 7,5 cm. sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm pada minggu keenam 2,4 cm dan akhirnya pulih.
3.       Perubahan pembuluh darah
Pembuluh darah yang besar menjadi mengecil dalam nifas karena setelah persalinan sudah tidak dibutuhkan lagi peredaran darah yang banyak.
4.       Perubahan pada cervix dan vagina
Beberapa hari setelah persalinan ostium externum dapat dilalui oleh 2 jari pinggir” tidak rata tapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Vagina yang sangat di regang waktu persalinan lambat laun mencapai ukuran yang normal. Pada minggu ke-3 post partum rugae mulai nampak kembali.
5.      Dinding perut dan peritoneum
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu
6.    Saluran kencing
Dinding kandung kencing memperlihatkan oedema dan hyperaemia. kadang-kadang oedema dari trgonum, menimbulkan obstruksi dari urethra sehingga terjadi retensia urine kandung kencing dalam puerperium kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah sehingga kandung kencing penuh atau sesudah masih tinggal urine residual. Sisa urine ini memudahkan terjadinya infeksi. Dilatasi akan normal kembali dalam waktu 2 mingu.
7.     Laktasi
Keadaan buah dada pada 2 hari sama dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu ini buah dada belum mengandung suatu. Melainkan colos trum, yaitu cara yang berwarna kuning.
8.         Luka-luka
Pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari
9.         Rasa sakit
Yang disebut after pains (merica atau mules) disebabkan kontraksi rahim,
 biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan. Bila terlalu mengganggu dapat diberikan obat-obat anti sakit dan anti mules.
10.     Lochea
Adalah cairan secret yang berasal dari lovum uteri dan vagina dalam masa nifas
a.    Lochea Rubra (cruenta)
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vernik, caseosa lanugo dan meconium selama 2 hari pasca persalinan.
b.      Lochea Sanguinolenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke 3-7 pasca persalinan
c.       Lochea serosa
Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan
d.      Lochea alba
Cairan putih, setelah 2 minggu
e.       Lochea Purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk
f.       Lochiostosis
Lochea tidak lancar keluarnya
11.    Serviks
Setelah persalinan, bentuk servik agak mengaga. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan “kecil, setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui untuk 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari
12.    Ligamen-ligamen
Ligament-ligamen dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum ratundum menjadi kendor.
(Sinopsis Obstetri,1998:116)
D.    Perawatan Pasca Persalinan
1.        Mobilisasi dini (early mobilization)
Ibu nifas sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur 24-48 jam PP boleh segera miring ke kanan dan ke kiri setelah 2 jam melahirkan hari ke 2 duduk, ke 3 jalan-jalan. Keuntungan dari mobilisasi.
a.    Melancarkan pengeluaran lochea. Mengurangi infeksi puerperium
b.    Mempercepat involusi alat kandungan
c.    Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan
d.   Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi Asi dan pengeluaran sisa metabolisme.
2.        Rawat gabung
Perawatan ibu dan bayi dalam satu ruangan bersama-sama sehingga ibu bisa lebih banyak memperhatikan bayinya, segera dapat memberikan Asi sehingga kelancaran pengeluaran Asi lebih terjamin.
3.        Pemeriksaan Umum
a.       Kesadaran penderita
b.      Keluhan yang terjadi setelah persalinan
4.        Pemeriksaan Khusus
a.       Fisik : tekanan darah, nadi dan suhu
b.      Fundus uteri : TFU, kontraksi uterus
c.       Payudara : putting susu, pembengkakan atau stowing ASI pengeluaran ASI
d.      Pertun lochea : lochea rubra, lochea sanguilenta
e.       Luka jahitan apisiotomi : apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda – tanda infeksi (kolor, dolor, fungsiolesa dan pernanahan)
5.        Pemulangan parturien dan pengawasan ikatan
Parturien dengan persalinan berjalan lancar dan spontan dapat dipulangkan setelah mencapai keadaan baik dan tidak ada keluhan. Parturien dipulangkan setelah 2-3 hari dirawat.
1)   Nasehat yang perlu diberikan saat pemulangan:
a.    Diet: makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori
b.   Miksi: hendak-hendak dapat dilakukan sendiri secepatnya. Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi
c.    Defekasi: buang air harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan
d.   Perawatan payudara: dimulai sejak hamil supaya putting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai perscapan menyusui bayinya.
e.    Laktasi: bila bayi mulai disusui, isapan putting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofise produksi Asi akan > banyak.
g.   Kebersihan diri
h.   Istirahat
i.     Latihan
2)   Nasihat untuk ibu postnatal:
a.Fisioterapi postnatal sangat baik bila diberikan
b.    Sebaiknya bayi disusui
c.Kerjakan gymnastic sehabis bersalin
d.   Untuk kesehatan ibu, bayi dan keluarga sebaiknya melakukan kb
e.Bawalah bayi anda untuk memperoleh imunisasi
E.     Konsep Dasar Pre Eklamsi Berat
1.      Definisi
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan proteinuria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ( Rustam Muctar, 1998 ).
 Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan.
(Ilmu Kebidanan : 2005).
Preeklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan atau disertai udema pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Asuhan Patologi Kebidanan : 2009).
2.      Dasar Diagnosis Pre Eklamsia
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria preeklamsia berat sebagaimana tercantum dibawah ini. Preeklamsia digolongkan preeklamsia berat bila ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut
-       Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg. Tekanan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah dirawat dirumah sakit dan sudah menjalani tirah baring
-       Proteinuria lebih 5g/24 jam atau 4 + dalam pemeriksaan kualitatif
-       Oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500cc/24 jam
-       Kenaikan kadar kreatinin plasma.
-       Gangguan visus dan serebral : penurunan kesadaran, nyeri kepala, skotoma dan pandangan kabur.
-       Nyeri epigastrum atau nyeri pada kuadaran kanan atas abdomen ( akibat teregangnya kapsula Glisson)
-       Edema paru-paru dan sianosis.
-       Hemolisis mikroangiopatik.
-       Trombositopenia berat: < 100.000 sel/mm³ atau penurunan trombosit dengan cepat
-       Gangguan fungsi hepar ( kerusakan hepatoselular ): peningkatan kadar alanin dan aspartate aminotransferase
-        Pertumbuhan janin intrauterin  yang terhambat.
-       Sindrom HELLP.     
( Ilmu Kebidanan, 2009:544-545)
3.      Etiologi
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori – teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Oleh karena itu disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan. Tetapi terdapat suatu kelainan yang menyertai penyakit ini yaitu :
- Spasmus arteriola
- Retensi Na dan air
- Koagulasi intravaskuler
Walaupun vasospasme mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini, akan tetapi vasospasme ini yang menimbulkan berbagai gejala yang menyertai eklampsia (Obstetri Patologi : 1984)
Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab preeklampsia ialah iskemia plasenta. Akan tetapi, dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang bertalian dengan penyakit itu. Rupanya tidak hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia dan eklampsia. Diantara faktor-faktor yang ditemukan sering kali sukar ditemukan mana yang sebab mana yang akibat.
(Ilmu Kebidanan : 2005).
4.      Patofisologi
Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199).
Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia (Cunniangham,2003).
Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin,tromboxan) yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet.  Penumpukan trombus dan perdarahan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit syaraf lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomelurus dan proteinuria. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume intavaskuler, meningkatnya kardiakoutput dan peningkatan tahanan pembuluh perifer. Peningkatan hemolisis microangiopati menyebabkan anemia dan trobositopeni. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim (Michael,2005).
5.      Tanda dan gejala pre eklamsia berat :
Pre eklamsia disebut berat, kalau :
a.         Tekanan darah ibu / 110 mmHg
b.        Oligovria, kurang dari 400 cc/24 jam
b.        Protenuma lebih dark 3 gelas/liter
c.         Keluhan subyektif
d.        Nyeri epigastrum
e.         Gangguan penglihatan
f.         Nyeri kepala
g.        Edema paru dan sianosis
h.        Gangguan kesadaran
6.      Manifestasi Klinis
Diagnosis preeklamsia ditegakkan berdasarkan adanya dari tiga gejala, yaitu:
- Edema
- Hipertensi
- Proteinuria
Berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali. Edema terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg atau tekanan diastolik > 15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit. Tekanan diastolik pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai bakat preeklamsia. Proteiuria bila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1 atau 2; atau kadar protein ≥ 1 g/l dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah, diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam.
7.      Pencegahan
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini preeklampsia, dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. Kita perlu lebih waspada akan timbulnya preeklampsia dengan adanya faktor-faktor predisposisi seperti yang telah diuraikan di atas. Walaupun timbulnya preeklamsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasannya yang baik pada wanita hamil. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein dan rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan. Mengenal secara dini preeklampsia dan segera merawat penderita tanpa memberikan diuretika dan obat antihipertensif, memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan antenatal yang baik. 
8.      Pemeriksaan penunjang
a.         Pemeriksaan spesimen urine mid-stream untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi urin.
b.        Pemeriksaan darah, khususnya untuk mengetahui kadar ureum darah (untuk menilai kerusakan pada ginjal) dan kadar hemoglobin.
c.         Pemeriksaan retina, untuk mendeteksi perubahan pada pembuluh darah retina.
d.        Pemeriksaan kadar human laktogen plasenta (HPL) dan esteriol di dalam plasma serta urin untuk menilai faal unit fetoplasenta (Helen Farier : 1999)Elektrokardiogram dan foto dada menunjukkan pembesaran ventrikel dan kardiomegali. 
9.       Penatalaksanaan
a.       Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingiual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal pemberian secara oral.
1.      Kardiotonika
Indikasinya bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung, diberikan digitalisasi cepat dengan cedilanid D
2.      Lain-lain:
a.       Konsul bagian penyakit dalam / jantung atau mata
b.      Obat-obat antipiretik diberikan bila suhu rectal lebih 38,5 derajat celcius dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau xylomidon 2 cc IM.
c.       Antibiotik diberikan atas indikasi (4) diberikan ampicilin 1 gr/6 jam /IV/hari
3.      Pemberian MgSO4:
a.        Dosis awal sekitar 4 gram MgSO4 IV (20% dalam 20 cc) selama 1 gr/menit kemasan 20% dalam 25 cc laruitan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Diikuti segera 4 gr dibokong kiri dan 4 gram dibokong kanan (40 % dalam 10 cc) dengan jaruim no 21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2 % yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan IM.
b.       Dosis ulangan : diberikan 4 gram intramuskuler 40% setelah 6 jam pemberian dosis awal lalu dosis ulangan diberikan 4 gram IM setiap 6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.

4.      Syarat –syarat pemberian MgSO4:
a.        Tersedia antidotumMgSO4 yaitu calcium gluconas 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) diberikan intravenous dalam 3 menit.
b.       Reflek patella positif kuat
c.        Frekuensi pernafasan lebih 16 kali per menit
d.       Produksi urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/kgBb/jam)
5.      MgSO4 dihentikan bila
a.       Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks fisiologis menurun, fungsi jantung terganggu, depresi SSP, kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot-otot pernafasan karena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter. Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-15 mEq terjadi kelumpuhan otot-otot pernafasan dan lebih 15 mEq /liter terjadi kematian jantung.
b.      Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat:
1.      Hentikan pemberian magnesium sulfat
2.      Berikan calcium gluconase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secatra iv dalam waktu 3 menit
3.      Berikan oksigen
4.      Lakukan pernafasan buatan


BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS PADA NY.  Q USIA 38 TH,
P6 A0 1 HARI POST PARTUM SPONTAN DENGAN PEB
DI RUANG BOUGENVILLE 1 RSUD KUDUS

Tanggal Pengkajian    : 24 April 2013
Jam                              :11. 45 wib
Tempat  Pengkajian     : Ruang Bougenville 1
No. Register                : 654441
I.     PENGKAJIAN
A.      Data Subyektif
1.         Identitas pasien
Nama                 : Ny Q                         
Agama               : Islam
Umur                 : 38 th
Suku/Bangsa     : Jawa/Indonesia
Pendidikan        : SMP
Pekerjaan           : Petani
Alamat              : Gajah 5/5 Demak

Identitas Penanggung Jawab
Nama Suami      : Tn. A
Agama               : Islam
Umur                 : 43 th
Suku/Bangsa     : Jawa/Indonesia
Pendidikan        : SMP
Pekerjaan           : Wiraswasta
Alamat              : Gajah 5/5 Demak
2.         Keluhan Utama : pasien mengatakan kepalanya pusing

3.         Riwayat Kesehatan
a.   Riwayat Kesehatan Keluarga
    Psien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular seperti ( HIV/AIDS, Hepatitis, TBC ). Penyakit menurun seperti ( Hipertensi, ASMA, DM ). Penyakit berat seperti ( Jantung, Paru-paru, Ginjal ).
b.  Riwayat Kesehatan Yang Lalu
    Pasien mengatakan tidak mempunyai penyakit menular seperti HIV/AIDS, Hepatitis, TBC. Penyakit menurun seperti DM, Asma. Penyakit Berat seperti Jantung, Paru-paru, Ginjal. Tetapi ibu mengatakan pada kehamilan ketiga ibu mempunyai riwayat hipertensi.
c.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien datang atas rujukan bidan dengan G6P0A0 hamil 40 minggu, dengan hipertensi TD: 210/110 mmHg, urine protein positif 2. Pasien mengatakan perutnya terasa mulas sejak tanggal 23 April 2013 pukul 09.00 wib. Pasien mengatakan keluar lendir darah dari pervaginam sejak tanggal 23 April 2013 pukul 10.00 wib. Lalu di bawa ke RSUD Kudus dan masuk di ruang bersalin (VK), diruang bersalin pasien mendapatkan tindakan infus RL+MgSO4. Pada jam 22.30 pasien melahirkan anaknya yang keenam dengan cara spontan, tidak ada penyulit dalam persalinan,tidak mengalami kecacatan, jenis kelamin perempuan, BB: 3000 gr, PB : 48 cm, plasenta lahir lengkap. Pada tanggal 24 April 2013 pukul 06.00 wib, pasien dipindahkan keruang bougenvil 1 dengan KU: baik, TD 170/110 mmHg, sudah terpasang infus RL+MgSO4 20 tpm dan RL+oxytosin 32tpm, setelah itu pada jam 06.30 di pasang DC.
4.        Riwayat Obstetric
a.  Haid                                            
Menarche : 14 Tahun
Siklus       : 28 hari                      
Lama        : 6-7 hari
Bau          : khas
Warna      : merah
Volume    : 2X ganti pembalut/hari
HPHT      : 23 Juli 2012
HPL         : 30 April 2013
b.  Riwayat pernikahan
Ibu menikah dengan suami saat usia 19 tahun dan suami berumur24 tahun usia pernikahan ± 19 tahun dengan status pernikahan syah.
c.    Kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Hamil ke-
Persalinan
Nifas
Ket
Tgl lahir
umur Kehamilan
Jenis persalinan
Penolong
Jenis kelamin
BB lahir
Kmplikasi
lktasi
kplksi
ibu
By
I
18 th
aterm
spontan
Dukun
Laki-laki
3000gr
-
-
baik
-
Bayi hidup sehat
II
15 th
Aterm
Spontan
Dukun
Laki-laki
3000 gr
-
-
Baik
-
Bayi hidup sehat
III
11 th
Aterm
Spontan
Dukun
Laki-laki
3000gr
-
-
Baik
-
Bayi hidup sehat
IV
5 th
Aterm
Spontan
Bidan
Laki-laki
2800gr
-
-
Baik
-
Bayi hidup sehat
V
3 th
Aterm
Spontan
Bidan
Perempuan
3000gr
-
-
Baik
-
Bayi hidup sehat
Hamil ini
1 hari
Aterm
Spontan
Bidan/ RS
Perempuan
3000gr
-
-
Baik
-
Bayi hidup sehat

d.   Kehamilan, persalinan, dan nifas sekarang
P6A0
TM I : Ibu tidak pernah memeriksakan kehamilannya kebidan maupun dokter.
TM II : ANC 1 x di bidan
            Dari hasil pemeriksaan didapati bahwa pasien mengalami tekanan darah tinggi dengan TD: 160/100 mmHg
TM III : ibu tidak pernah memeriksakan kehamilannya namun pada saat akan bersalin, ibu datang ke bidan, dan oleh bidan dirujuk ke RSUD kudus, karena TD 210/110 mmHg, protein urine + 2, kaki tidak oedema, kepala pusing.
e.    Riwayat Pemakaian Kontrasepsi
no
waktu pasang
jenis alkon
efek samping
lama
alasan lepas
penggunaan
1
tahun 1996
pil
tidak ada
2,5 tahun
ingin punya anak
2
tahun 1998
pil
tidak ada
3,5 tahun
ingin punya anak
3
tahun 2002
pil
tidak ada
5,5 tahun
ingin punya anak
4
tahun 2008
suntik
tidak ada
1,5 tahun
ingin punya anak
5
tahun 2010
tidak kb
 -
6
tahun 2013
MOW
 -

f.     Pola kebutuhan sehari-hari
1)        Nutrisi
Selama hamil :
ibu makan 3X/hari dengan porsi sedang, yaitu 1 piring karena untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, dengan komposisi nasi, protein dengan lauk pauk ( tempe, ayam), zat besi dengan sayur (bayam), vitamin dengan buah ( pisang, jeruk ), air putih ±1600cc/hari.
Selama nifas :
Ibu makan 3 x sehari, porsi sedang yaitu ½ piring. Untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat ibu makan nasi, protein dengan lauk pauk (tahu, tempe), zat besi dengan sayur ( sop ), vitamin dengan buah ( pepaya ), dan minum air putih ±1600cc/hari.
Keluhan : tidak ada
2)        Pola eliminasi
Selama hamil :
Ibu buang air kecil 2-3X/hari, warna kuning, jernih, bau khas urin. Buang air besar 1X/hari, dengan konsistensi lunak, bau khas feses
Selama nifas :
Ibu belum buang air besar selama 2 hari, ibu buang air kecil dengan bantuan kateter/DC dengan volume 500 cc warna kuning jernih.
Keluhan : belum bisa buang air besar selama 2 hari.
3)        Pola mobilisasi
Selama hamil :
Ibu dapat melakukan mobilisasi dengan baik, tidak ada halangan, misalnya menyapu, mencuci atau melakukan pekerjaan sebagai seorang petani.
Selama nifas :
Ibu baru bisa melakukan mobilisasi seperti miring ke kiri, kanan, namun ibu belum bisa duduk dan berjalan.
Keluhan : belum bisa duduk dan berjalan setelah post partum



4)        Pola Istirahat
Selama hamil :
 ibu tidur siang ± 2 jam/hari, tidur malam ± 8 jam/hari, nyenyak.
Selama nifas :
Ibu mengatakan dapat tidur tetapi tidak nyenyak karna masih merasakan mulas mulas pada perutnya setelah melahirkan, begitupun juga pada malam hari.
Keluhan : belum bisa tidur nyenyak
5)        Pola personal hygiene
Selama hamil :
Ibu mandi 2X/hari, gosok gigi 2X/hari, ganti baju 2X/hari dan keramas 3X/minggu
Selama nifas :
Ibu belum mandi hanya disibin dengan air hangat
Keluhan : tidak ada keluhan
g.    Psikologi
Ibu dan keluarga senang dengan kelahiran bayi perempuan tersebut.
B.       Data Obyektif
1.    KU             : Lemah
2.    Kesadaran  : Composmentis
3.    TTV
TD              : 170/110 mmHg
RR              : 20x/menit
S                 : 36,3oc
N                : 82x/menit
  4.  Status Present
     Kepala        : Mesochepal, tidak ada lesi
     Rambut      : Lurus, hitam, bersih, tidak rontok, tidak ada ketombe.
   Mata           : Simetris, Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, palpebra tidak oedem, penglihatan ibu baik, pandangan tidak kabur, reflek pupil baik.
Hidung       : Simetris, tidak ada sekret, tidak ada pembesaran polip, tidak ada cuping hidung.
Mulut         : Simetris, tidak ada stomatitis, gigi tidak berlubang, tidak ada caries dentis, lidah bersih, mukosa bibir dan mulut lembab.
Leher          : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid atau vena jugularis.
Aksilla        : Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe.
Dada  
   Pulmonal    :  Inspeksi       : Simetris
                         Palpasi         :  Vocal premitus kanan dan kiri sama kuat
                         Perkusi         :  Sonor
                         Auskultasi    :  Vasikuler
   Jantung       : Inspeksi       : Tidak terlihat ictus cordis
                        Palpasi          : Teraba ictus cordis
                        Perkusi          : Pekak
                        Auskultasi    : Reguler, suara 1 dan 2 ( lub dub )
Abdomen   : tidak ada pembesaran kelenjar limpa, serta tidak ada luka bekas operasi.
Punggung   : normal
Genetalia    : tidak oedema, tidak ada varises, tidak ada condiloma akuminata, tidak ada pembesaran kelenjar bartolini, terpasang DC.
Anus             : bersih, tidak ada hemoroid.
Ekstremitas
Atas            : jari tangan lengkap, simetris, tidak oedema, pergerakan aktif, tangan kiri terpasang infus RL + MgSO4 20 tpm, RL + Oxiticyn 10 iu (32 tpm)
Bawah        : jari kaki lengkap, simetris, tidak ada oedema, tidak ada varises.
4.      Status obstetri
a.    Mammae
                 Hyperpigmentasi pada areola
Kondisi puting susu menonjol dan bersih
Kolostrum Asi           : sudah keluar
Kebersihan                : mammae bersih
b.      Abdomen
TFU                           : 1 jari di bawah pusat
Kontraksi uterus        : keras ( baik )
Bekas jahitan             : tidak ada luka bekas operasi
c.    Jalan lahir
Lokhea rubra, warna merah terang, bau khas.
Volume 1X ganti pembalut,  tidak ada laserasi jalan lahir.
5.      Therapy          
Tanggal 23 April 2013
-       Infus RL + MgSO4                     20 tpm
-       Infus RL + oxsitocyn 10 iu          32 tpm
-       Asam Asetillisilat                         1x1 800mg (oral)
-       Nifedipin                                       1x 10mg (oral)
-       Cefadroxil                                    3x1 500mg (oral)
Tanggal 24 April 2013
-       Clopidogrel                      1x 600 mg (iv)
-       Intepril                             1x 10mg (oral)
-       Amlodipin                        1x 10mg (oral)
-       Asam Mefenamat             3x1 500mg (oral)
            Tanggal 25 April 2013
-       Asam Mefenamat             3x1 500mg (oral)
-       Intepril                             1x 10mg (oral)
-       Amlodipin                        1x 10mg (oral)

I.     INTERPRESTASI DATA
1.    Diagnosa Kebidanan
Ny Q, umur 38 tahun, P6A0 1 hari Post partum spontan dengan PEB
Ds :   -     Ibu mengatakan bernama Ny. Q
-           Ibu mengatakan berusia 38 tahun
-           Ibu mengatakan bahwa ini anak yang ke 6
-           Ibu mengatakan belum pernah keguguran
-          Ibu mengatakan anaknya sehat, berjenis kelamin perempuan, lahir jam 22.30 WIB
-          Ibu mengatakan masih merasa pusing TD: 170/110 mmHg
-          Pandangan tidak kabur
-          Kaki tidak oedema
         Do :
Ku              : Lemah
Kesadaran  : composmentis
TTV           : TD : 170/110 mmHg
                     RR : 24 x/menit
                     S    : 36,5 °C
                     N   : 82 x/menit
Lochea        : lochea rubra warna merah terang, bau khas, volume 1 x ganti pembalut
TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus keras (baik)
Tidak terjadi laserasi jalan lahir
Hasil laboratorium protein urine + 2
2.      Masalah
Ibu mengatakan masih merasa pusing
3.      Kebutuhan
Observasi KU dan vital sign


II.      DIAGNOSA POTENSIAL
Tanggal/ pukul : 24-04-2013/ 11.45 WIB
Potensial terjadi eklamsi

III.   ANTISIPASI
Tanggal / pukul : 24-04-13 /11.45 WIB
Mengantisipasi eklamsia dengan observasi vital sign terutama tekanan darah.

IV.        INTERVENSI
      Tanggal 24 april 2013, jam 11.50 WIB
1.       Lakukan observasi vital sign
2.      Beritahu keadaan ibu sekarang
3.      Anjurkan Ibu untuk selau menjaga kebersihan dirinya dengan mengganti pembalut apabila sudah penuh, dan cebok dari depan kebelakang.
4.      Observasi TFU, kontraksi uterus, pengeluaran lochea
5.      Anjurkan ibu untuk diet makanan sesuai pemberian rumah sakit
6.      Lakukan sibin pada Pasien
7.      Anjurkan ibu untuk mobilisasi, misal duduk.
8.      Kolaborasi dengan Dr. SpOG untuk pemberian terapi :
Infus RL                                       20tpm
Clopidrogel                       1x600 mg (iv) 
Asam mefenamat              1x500 mg/tablet (oral)
       Intepril                                         1x10 mg/tablet (oral)
       Amlodipin                        1x10 mg/tablet (oral)

Tanggal 25 April 2013, jam 08.05 wib
1.      Lakukan observasi vital sign
2.      Lakukan perawatan kateter dan vulva hygiene
3.      observasi TFU, Kontraksi uterus, dan pengeluaran lochea
4.      anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan tubuhnya, terutama genetalia
5.      anjurkan ibu untuk diet makanan sesuai pemberian Rumah sakit
6.      lakukan pemberian terapi oral
       Asam mefenamat             1x500 mg/tablet (oral)
       Intepril                             1x10 mg/tablet (oral)
       Amlodipin                        1x10 mg/tablet (oral)
7.      lakukan aff infus dan aff DC


V.      IMPLEMENTASI
     Tanggal 24 April 2013 jam : 12.00 wib
Jam 12.00          Melakukan observasi vital sign
TD           : 170/110 mmHg
N             : 82x/menit
RR           : 24x/menit
S              : 36°c
Jam 12.05        Memberitahu keadaan ibu sekarang bahwa keadaan ibu baik.
Jam 12.10          Menganjurkan Ibu untuk selau menjaga kebersihan dirinya dengan mengganti pembalut apabila sudah penuh, dan cebok dari depan kebelakang.
Jam 12.15          Mengobservasi TFU, kontraksi uterus, pengeluaran lochea. Dari hasil pemeriksaan di dapati TFU : 2 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik (keras ), pengeluaran lochea yaitu msih lochea rubra warna merah.
Jam 12.20          Menganjurkan ibu untuk diet makanan sesuai pemberian rumah sakit
Jam 16.00          Melakukan sibin pada Pasien
Jam 16.05          Menganjurkan ibu untuk mobilisasi, misalkan duduk.
Jam 18.00          Berkolaborasi dengan Dr. SpOG untuk pemberian terapi :
                          Infus RL                                20tpm
                     Clopidrogel                           1x600 mg (iv) 
                     Asam mefenamat                  1x500 mg/tablet (oral)
                     Interpril                                 1x10 mg/tablet (oral)
                     Amlodipin                             1x10 mg/tablet (oral)

Tanggal 25 April 2013, jam 08.10 wib
Jam 08.10     Melakukan observasi vital sign, hasilnya
TD    : 160/90 mmHg
N       : 82x/menit
RR    : 24x/menit
S       : 36°c
Jam 08.15     Melakukan perawatan kateter dan vulva hygiene
Jam 08.20     Mengobservasi TFU, Kontraksi uterus, dan pengeluaran lochea. Dari hasil pemeriksaan di dapati TFU : 1 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik ( baik ), pengeluaran lochea masih lochea rubra.
Jam 08.25     Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan tubuhnya, terutama genetalia
Jam 08.30     Menganjurkan ibu untuk diet makanan sesuai pemberian Rumah sakit

Jam 09.00     Melakukan pemberian terapi oral
                     Asam mefenamat           1x500 mg/tablet (oral)
                     Interpril                          1x10 mg/tablet (oral)
                     Amlodipin                      1x10 mg/tablet (oral)
Jam 09.30     Melakukan aff infus dan aff DC

VI.          EVALUASI
Tanggal 24 April 2013 pukul : 12.15 wib
1.   Ibu sudah mengerti dengan keadaannya
2.   Observasi vital sign sudah dilakukakan
3.   Ibu bersedia untuk selalu menjaga kebersihan dirinya
4.   Observasi TFU, kontraksi uterus, pengeluaran lochea sudah dilakukan dan hasilnya baik.
5.   Ibu bersedia untuk diet sesuai yang diberikan oleh rumah sakit
6.   Pasien sudah disibin dan diganti bajunya
7.   Ibu sudah bisa duduk
8.   Teraphy sudah diberikan
                 Tanggal 25 april 2013 pukul 08.15 wib
1.      Observasi vital sign sudah dilakukan, hasilnya baik
2.      Perawatan kateter dan vulva hygiene sudah dilakukan
3.      Observasi TFU, kontraksi uterus, pengeluaran lochea sudah dilakukan dan hasilnya baik.
4.      Ibu bersedia untuk selalu menjaga kebersihan tubuh serta genetalianya.
5.      Ibu bersedia untuk diet sesuai yang diberikan rumah sakit
6.      Teraphy sudah diberikan
7.      Infus dan DC sudah di aff.


BAB IV
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lamanya masa nifas 6-8 minggu.
(Sinopsis Obstetric 1998, 115)
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan proteinuria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih         ( Rustam Muctar, 1998 ).
B.  Saran
1.      Bagi mahasiswa, diharapkan mahasiswa mampu menganalisis masalah-masalah diatas, dan mampu memberikan penatalaksanaan dari kasus di atas
2.      Bagi pembaca, diharapkan para pembaca dapat memahami dan mengerti cara mengantisipasi masalah-masalah yang terdapat di makalah.
3.      Bagi tenaga kesehatan, diharapkan mampu menatalaksanakan/ memberikan asuhan sesuai masalah yang terdapat pada makalah di atas
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif dkk.2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius : Jakarta
Doengoes, Marilynn E.2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran. EGC : Jakarta.
Sujiyatini dkk. 2009. Asuhan Patologi Kebidanan. Nuha Medika : Jogjakarta
Wiknjosastro, Hanifa.2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta Pusat
Obstetri Patologi. 1984. Elstar Offset : Bandung.
Mochtar, Rustam.1998.Sinopsis obstetri fisiologi, obstetri patologi.EGC: Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar